Rabu, 08 Agustus 2012

LAPORAN KEGIATAN STUDY TOUR


LAPORAN KEGIATAN STUDY TOUR
Oleh : Neneng Novesha Dewi
IXB
Tujuan             : Pantai Batakan, Martapura dan Duta Mall

            “Sebelas Maret diriku masuk penjara
            Awal ku menjalani proses masa tahanan
            Hidup di penjara sangat berat ku rasakan
Badanku kurus, karena beban pikiran
Kita orang yang lemah tak punya daya apa-apa
Tak bisa berbuat banyak seperti para koruptor”
Senandung lagu Gayus Tambunan terdengar dari sebuah telepon genggam milik ku. Pertanda waktu telah menunjukkan 03.45 WIB. Tadi malam sengaja ku pasang alarm ‘tuk bangunkan ku dipagi ini.
03.45 WIB. Langit masih hitam. Walaupun bulan sudah tak nampak, namun sang surya belum menampakkan dirinya dimuka bumi. Mungkin saja itu pengaruh cuaca tadi malam yang tidak bersahabat. Udara dingin yang masih menusuk kulit membuat ku enggan untuk menyingkirkan selimut kala itu. “Ah, baru jam 03.45, masih lama waktu untuk beralih ke angka lima. Lebih baik tidur sebentar lagi.” Gumam ku lirih. Ku tarik kembali selimut yang sudah ku tandaskan diatas bantal ku. Kembali terlelap. Oh, tidak. Tetapi, hampir terlelap. Namun, ku raih telepon genggam ku dari samping bantal ku, ku klik tombol navigasi kiri. Lalu ku ketik sebuah kalimat ‘tuk ku kirimkan untuk ibu.
Kepada            : My Mam [081221246014]
Isi                    : Mah, temanin aku. Mau siap-siap.
Begitulah kiranya pesan yang begitu singkat untuk ibu ku.
Terdengar kasak-kusuk di dapur. Mungkin saja ibu ku telah bangun sejak ku kirim pesan singkat tadi. Kala ini, tanpa enggan segera ku singkirkan kembali selimut yang tengah menggelayuti tubuh ku dikala semilir udara yang berhembus lembut namun menusuk kulit.
Ku turuni tangga tempat tidur ku perlahan namun pasti. Ku bentangkan kedua tangan ku sebentar, lalu segera ku raih handuk. Langkahkan kaki pasti menuju kamar mandi.
Gebyar. Gebyur. Gebyar. Gebyur.
Begitulah kiranya suara yang tertangkap indra pendengaranku ketika ku melakukan aktivitas mandi. Sepuluh menit kiranya aku di kamar mandi. Usai itu, dengan pasti ku kembali langkahkan kaki menuju kamarku. Ku raih kaos berwarna putih keabu-abuan.
Minggu kelabu kali ini, 6 Februari 2011, sekolah ku mengadakan study tour ke Pantai Batakan-Martapura-Duta Mall. Itulah sebabnya diri ku kala ini seperti terkejar waktu. Ya memang terkejar waktu. 05.00 WIB itulah waktu yang ditentukan untuk keberangkatan menuju pantai Batakan. Namun, tepat jam 05.00 aku masih di perjalanan menuju ke sekolah -SMP Negeri 1 Selat-. Febriana Prastiwi, teman sejawat ku saja sudah menghubungi ku sedari tadi, memberitahukan bahwa semua siswa sudah berkumpul. Ya Allah, gelisah sekali kala itu hati ku. Namun, gelisah itu tetap ku paku erat di hati ku, tanpa mengutarakannya pada kakak yang mengantarku ke sekolah.
05.10 WIB. Angka yang begitu pasti. Angka yang menunjukkan waktu. Angka itu tepat bersamaan dengan langkah ku yang memasuki gerbang sekolah ku. Terlihat siswa-siswi dengan pakaian tersendiri -tidak seragam- sedang berbaris rapi sembari mendengarkan sedikit celotehan dari para guru. Entah siapa dan apa yang dibicarakan. Aku pun tak tahu. Mengapa ? Ya, karena aku mendapat barisan dibelakang. Bagaimana mau mendengar, sedangkan hiruk pikuk kebahagian terpancar dan diutarakan hampir oleh semua siswa yang ada disitu. Ya tentu sajalah, pengeras suara yang digunakan salah satu guru terkalah tanding dengan suara mereka. Upps, sebenarnya aku juga ngerumpi tuh di belakang barisan. Hehe.
Entah kalimat penutup apa yang diutarakan guru hingga membuat semua siswa menghamburkan diri tak beraturan. Ya, ku dengar-dengar sih diperintah menuju bis masing-masing. Aku –Neneng Novesha Dewi-, Febriana Prastiwi, Ichwan Rizky Ananda, Evy Dharmayati, Cindy Yosan Daynestrie, Ayu Tri Suryaningsih, Filadelfia, Rosyani Dwi Putri Anggreini, Chikita Kasih Soeling, Roberto, Nikho Prasetyo, Muhammad Saufi, Yulia Maulida, Asyahrani, Yudi Agung Wicaksono, dan Bimo Gadang Purwanto memasuki bis sepuluh dengan guru pendamping Ibu Diasie beserta suami. Semuanya diatur rapi. Di bangku depan samping supir diduduki oleh Ibu Diasie, suaminya, dan kedua anaknya. Di barisan kedua diduduki oleh Yulia Maulida, Cindy Yosan Daynestrie, Ayu Tri Suryaningsih, dan Rosyani Dwi Putri Anggreini. Di barisan ketiga diduduki oleh Febriana Prastiwi, aku -Neneng Novesha Dewi-, Filadelfia, dan Ichwan Rizky Ananda. Dibarisan keempat diduduki oleh Asyahrani, Yudi Agung Wicaksono, Bimo Gadang Purwanto, dan Evy Dharmayati. Sedangkan barisan paling belakang atau barisan kelima diduduki oleh Roberto, Muhammad Saufi, Nikho Prasetyo, dan Chikita Kasih Soeling.
Jadwal keberangkatan yang diatur berangakat jam 05.00 WIB, ini diundur, diundur, dan diundur sampai jam 06.07 WIB barulah bis meluncur menuju Pantai Batakan. Namun perkiraan ku salah, ternyata, bis berhenti di dekat Pom Bensin Sungai Beras. Karena salah satu bis rombongan yang mengalami kecelakaan kecil. Tak lama kiranya. Bis kembali meluncur. 06.21 WIB. Kami melewati jembatan Pulau Petak. Selama diperjalanan bermacam-macam aktivitas yang kami lakukan seperti, memakan makanan ringan, bernyanyi bersama, bercanda ria, serta lain hal. Tak terkira waktu telah brlangsung hingga arloji yang melingkar di pergelangan tangan Febri telah menunjukkan pukul 07.40 WIB. Semua bis berhenti sejenak melepas lelah di Musola desa Marabahan baru, Kec. Anjir, Kab Barito Utara.
Untuk kesekian kalinya Febri teman sejawat ku melirik arloji sesaat. 08.00 WIB. Bis yang kami gunakan menapakkan ban di Jembatan Barito. Diperjalanan diliputi dengan suka cita. Berbagai lelucon yang dibuat-buat sering memecahkan keheningan dan menimbulkan gelak tawa. Hanya Rosyani yang terdiam diri. Mungkin dia tidur. Sesaat semua perut mulai demo, Yulia mengeluarkan bahan bawaan. Setengah lusin Malkist, Better, dan kacang Jaipong. Wah, lumayan nih. Pikir ku sesaat. Tahu saja dia pikiran teman-temannya kala itu. Ditawarkannya beberapa makanan ringan yang dia punya. Ya jelaslah semua besorak mau.
Terbuai dengan canda ria, tak terasa kami sudah memasuki daerah Handel Bakti tepat pukul 08.10 WIB. Aku terlelap dalam buaian lagu yang di senandungkan oleh Filadelfia. Tidur sejenak. Tak tahu lagi atas aktivitas yang mereka lakukan.
10.04 WIB. Sebuah sentuhan lembut mendarat dikepala ku. Febri rupanya membangunkanku. Ku pikir sudah sampai di Pantai Batakan, namun pikiran ku melesat jauh, kala itu baru memasuki daerah Pelaihari dan beistirahat di terminal bis Tanah Laut, Pelai hari. Terlihat gerobak pentol dikelilingi oleh beberapa pembeli yang sebenarnya juga teman-temanku.
Kiranya dari Pelaihari satu jam waktu perjalanan ke daerah Pantai Batakan.
Perjalanan Pelaihari-Batakan diisi oleh senandungan seriosa oleh Filadelfia didekatku. Merdu sekali. Hingga kami terbuai oleh senandungannya sehingga tak terasa waktu semakin bertambah dan menunjukkan pukul 11.35 WIB. yang menandakan kami telah sampai ditempat tujuan pertama, Pantai Batakan.
Aku -Neneng-, Febri, Ayu, dan Evy adalah teman sejawat sejak kelas sembilan ini melangkahkan kaki menuruni bis disertai teman-teman yang lainnya. Menuju pondokan disekitar Pantai. Suasana pantai yang begitu kotor. Kotoran-kotoran kuda dan sampah yang begitu berserakan tiada terkira sukses menyingkirkan rasa takjub yang ku bayangkan sejak jauh-jauh hari. Jauh berbeda sekali. Menjijikkan. Hanya kata itu yang mampu terungkap. Ya, pantas saja, kami dilarang berenang. Memang keadaan yang sangat tak pantas untuk digunakan berenang.
Hingga kami putuskan untuk terlebih dahulu mengisi perut yang sedari tadi sudah mendemo tak karuan. Ketika makan, datang segerombolan anak-anak kecil yang ternyata seorang peminta-minta. Sungguh memelas suaranya. Namun setelah diberi uang kecil oleh Febri. Anak itu berteriak girang tiada terkira. Tak ada sepatah ucapan terima kasih yang terlontar dari mulut mungilnya itu.
Usai memakan nasi kotak. Uh, namanya saja nasi kotak, tapi nasinya udah dingin keras pula, semua tidak berselera untuk makan. Langsung saja membebaskan diri dengan kegiatan masing-masing di pantai nan kotor ini dengan semilir angin yang mampu menapis sedikit rasa kekecewaan atas pemandangan tak sedap itu. Ada yang bermain sepak bola bersama guru olahraga, bermain air, mengukir tulisan diatas pasir, berfoto-foto, menyewa dokar untuk dibawa berkeliling pantai, bahkan ada juga yang hanya menonton aktivitas-aktivitas yang terjadi saat itu dikejauhan sana.
Semilir angin yang berhembus sepoi-sepoi bagaikan di Pantai Kuta, Bali. Namun, perbedaannya begitu jauh. Pasir pantai yang lembut hanya dapat dirasakan dipesisir pantai. Lewat dari itu, kasar, bahkan membuat kaki menjadi gatal. Ya, mungkin saja itu faktor dari sampah-sampah dan kotoran-kotoran kuda yang berserakan. Tak ada rintangan bagi kami untuk melakukan aktivitas seperti teman-teman yang lain. Berfoto bersama. Bermain air, dan lainnya.
Bosan berlama-lama di air. Beranjak kami pergi menuju kamar ganti. Namun, sebelum itu kami pergi mengambil alas kaki yang tadi telah kami tanggalkan begitu saja, untunglah tak hilang diambil orang. Bu Karlimi yang sedang duduk diatas batang kayu menegur kami, “Eh, kalian kenapa tidak menggunakan alas kaki, itu bahaya, banyak kotoran kuda yang dapat menyebabkan gatal-gatal. Apalagi kamu Febri yang sedang luka dikaki, nanti iritasi.” Ucap bu Karlimi menasehati kami semua. Kami semua senyum-senyum, terutama Febri. Dan dengar-dengar ada satu bis yang mogok, yaitu bis 7, rombongan Pak Ahmad Yani. Dengan hati yang berkalut kecewa namun tetap diiringi dengan kesetiakawanan, kami rela menunggu sekitar dua jam di pantai Batakan. Yulia saja hampir terlelap dalam tidurnya untuk menunggu waktu selama itu.
14.30 WIB semua sudah berkumpul, waktunya ke tujuan selanjutnya. Eh, tunggu. Katanya tidak jadi ke Martapura. Oh, tidak. Ah, tidak seru itu. Tapi, tak apalah, mengingat waktu yang semakin sempit ini. Bis dilajukan ke tujuan terakhir saja, Duta mall. Waktu terus bergulir, petang telah menanti. 17.35 WIB. semua telah menandaskan diri di parkiran Duta Mall, lalu membubarkan diri tanpa diperintah ke tujuan-tujuan masing-masing. Aku, Febri, Evy, Ayu, dan Cindy pertama-tama ke Stroberry, dan beralih ke Naughty, bosan menunggu lama si Barbie -panggilan akrab Febri- dan si mancung -panggilan akrab Ayu- bergelayut dengan aksesoris yang menurut ku terlalu feminim. Aku, Evy, dan Cindy beralih ke toko buku Gramedia. Putar-putar, pusing, terpisah dari Evy dan Cindy. Baterai telepon genggam ku yang sudah tidak bernyawa. Oh, begitukah nasibku? Tunggu, itu dia mereka sedang membaca buku didepan deretan rak buku SLTP. Ku ajak Evy ke deretan rak Novel. Namun baru saja ku daratkankan tangan ku di cover novel yang ku cari. Pekikan yang lumayan keras memancar tak karuan dari mulut Cindy dengan nafas yang tersengal-sengal berkata bahwa segera saja berkumpul di parkiran bawah, mau pulang katanya.
Dengan nafas yang tak karuan, menuruni eskalator dengan tergesa-gesa, salah pintu keluar pula. Terpaksa harus tetap berlari. Sesampai diparkiran, ternyata, masih ada yang ditunggu. Ah, sial sekali, belum sempat membeli apa-apa. Tapi, tak apalah.
Tepat pukul 19.30 WIB, kami teruskan perjalanan pulang. Dengar-dengar mau melewati Kayutangi, semua bergidik ngeri. Namun, salah. Tidak jadi melewati daerah itu. Rasa kantuk yang menyerang dengan tiba-tiba tak dapat ku tahan lagi. Terbawa sepoian angin dari arah jendela sangat mendukung sekali untuk ku tidur kala itu.  Melewati jembatan Barito tepat jam 21.00 WIB. Namun, ku terbangun hanya melirik arloji sesaat, lalu tidur lagi. Tapi, lelucon yang dibuat oleh Ichwan mampu menahan kantuk ku sesaat. “Hei, aku hantu. Aku bisa menggigit. Ayo, siapa yang takut dengan ku.” Ucapnya seraya menutupi wajahnya dengan topi milik Yudi, sambil diiringi gelak tawa dari teman-teman ku. Dering lucu juga berkumandang dari telepon genggam milik Asyahrani yang sedang dimainkan oleh Chikita. Diserahkannya telepon tadi ke Asyahrani, tapi tak ada sahutan disana. Dia -Asyahrani- terlelap dalam tidur disamping gitar milik Yudi. Tersembunyi posisinya. Sampai hampir semua isi bis membantu Chikita membangunkannya. “Oi, Ni, bangun Ni. Bapak mu menelepon.” Ucap semuanya serempak. Masih tak ada jawaban. Kala itu ada saja lelucon yang diselipkan. “Ni, kue. Kue, kue, Ni.” Celoteh Ichwan dengan logat menirukan seorang ibu-ibu paruh baya yang biasa berjualan kue dipagi hari. Sontak, Asyahrani langsung terbangun dengan sambutan gelak tawa seisi bis. Sesaat setelah itu. Semua kembali diam. Kembali keaktivitas masing-masing. Ya, tidur lah aktivitasku.
21.34 WIB, menaiki jembatan Pulau Petak. Semua sudah bangun. Meminjam telepon genggam milik teman untuk menghubungi orang tua masing-masing agar segera siap siaga di sekolah. Febri kembali melirik arloji ketika bis sudah menandaskan diri didepan gerbang SMP Negeri 1 Selat. 21.42 WIB. Angka itulah yang tertera dilayar monitor arlojinya. Semua berkemas-kemas. Mengambil tas masing-masing di bagasi. Lalu, kembali membubarkan diri menuju jemputan masing-masing.
22.00 WIB barulah ku sentuhkan alas kaki di halaman rumah ku. Jauh sekali dari jadwal yang diperkirakan. Ku letakkan barang bawaan di kamar. Ganti baju, kemudian melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Dan……. Kembali ke kamar ‘tuk hempaskan diri di kasur nan empuk itu. Bergelayut indah dalam mimpi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar